donderdag, november 29, 2007
g jelas...deh
Dwui Eriano (24) adalah pemain muda berbakat milik Satria Muda, Jakarta. Iboy, demikian ia biasa dipanggil termasuk pemain yang cepat menanjak. Baru mulai berlatih serius basket di tahun 1995 bersama klub Mitra Guntur, tahun 1996 ia sudah mengikuti event internasional Kejuaraan Junior U-22 SEABA di Brunei Darussalam. Selanjutnya di tahun 1997, Iboy mengikuti Adidas Streetball Challenge di Milan, Italia bersama Rifki Irawan, M. Bayu Radityo dan M. Arif Widodo.“Aku mulai tahu basket waktu SMP. Itu juga karena teman sebangku senang mengoleksi kartu-kartu basket, seperti Michael Jordan, Scottie Pippen,” cerita pemain yang saat itu suka ke Blok M untuk mencari koleksi kartu. “Saat itu aku belum pernah memegang bola basket bahkan ke lapangan basket pun tidak,” tambah Iboy.Setelah lulus SMP, teman-temannya di SMU 99 kerap mengajak Iboy bermain basket. Walaupun belum bisa mendribel bola, penggemar film drama komedi dan action ini toh tertarik untuk mencoba. Dan di tahun 1995 Iboy pun bergabung dengan klub Mitra Guntur. Keseriusan Iboy menekuni basket diawali oleh dorongan dan motivasi dari pemain senior di Mitra Guntur. “Para seniorku di Mitra Guntur selalu meyakinkan aku kalau aku tuh bisa jadi pemain basket yang bagus. Kata mereka aku punya talenta. Karena dorongan mereka dan restu dari mama, aku akhirnya terjun secara total ke basket,” kenang Iboy yang memang sangat dekat dengan ibunya. “Mama hanya berpesan agar sekolahku tidak terlantar.”Soal sekolah pula yang menjadi kenangan tak terlupakan di awal menggeluti basket. Dipanggil oleh guru BP (Bimbingan Penyuluhan) 2 hingga 3 kali seminggu sampai mengikuti ujian susulan sudah menjadi hal yang rutin bagi Iboy. Bahkan ketika Ebtanas tinggal beberapa hari lagi, Iboy masih berada di kota Surabaya. Namun totalitas dan keyakinan diri membuat semangat lelaki penggemar jenis lagu hard core ini tidak pernah surut.“Aku berusaha meyakinkan guruku saja bahwa aku mampu membagi waktu antara basket dan sekolah. Mereka mungkin takut aku seperti atlet karate nasional di sekolahku yang sempat tidak naik kelas. Tapi aku katakan bahwa aku berbeda dengan dia,” ungkap Iboy dengan mantap.Totalitas pula yang membuat Iboy tidak pernah lelah menempuh jarak Cibubur-Manggarai seminggu tiga kali. “Aku latihan jam 7 sampai 9 dan baru sampai rumah lagi sekitar jam 12, langsung berangkat sekolah,” jelas Iboy yang punya panggilan ‘Panjang’ saat SMA ini.Dekat Dengan KeluargaSelain totalitas, small forward setinggi 189 cm ini sangat dekat dengan keluarganya.“Kebanggaanku adalah kalau bisa menyenangkan keluarga dan mereka bisa merasa bangga terhadap prestasiku,” ujar pemain yang memperoleh nama Dwui dari sang kakek. “Sebab merekalah yang banyak mendukung aku,” tambahnya.Walaupun sekarang waktu untuk bersama keluarga praktis hanya di akhir minggu, Iboy selalu menyempatkan untuk pulang ke rumahnya di daerah Cibubur. Bahkan sudah menjadi tradisinya jika akan bertanding di luar Jakarta, selain minta doa ke ibunya, Iboy pasti menyempatkan diri berziarah ke makam Engkong-kakeknya-di Kalibata. "“Kalau belum minta doa ke mama, rasanya belum plong,” kata penggemar berat soto ayam buatan Afni Yulidah, sang bunda. “Mama tuh kayaknya punya six sense deh, karena setiap habis tanding pasti beliau sudah tahu sebelum aku cerita. Tapi mama tidak mau bilang sebelumnya,” tambah Iboy sambil tertawa kecil.Sebagian besar penghasilan Iboy ternyata ia berikan untuk keluarganya. Sakit yang mendera sang ayah, Riyatno Wahidin, membuat Iboy dan kakaknya, Eko, memutuskan untuk sepenuhnya menanggung biaya hidup keluarga mereka.“Kuliah dan biaya hidup Ade di Bandung, aku yang menanggung,” cerita Iboy. Ade adalah adik Iboy yang bersekolah di Teknik Kelautan ITB. “Tiap bulan aku juga memberi mama, untuk belanja,” tambah anak kedua dari tiga bersaudara ini.Iboy saat ini masih kuliah di Perbanas jurusan Manajemen dan ia berharap dua tahun lagi dapat menyelesaikan studinya. “Setelah itu mungkin aku mau mengambil S2,” tukas pemain yang mencari pendamping hidup yang jago masak.Kapan akan berhenti bermain basket?“Kalau bisa mendapatkan pekerjaan yang memberikan penghasilan yang lebih baik dari bermain basket, aku mungkin akan berhenti,” ungkap pemain yang senang naik gunung di saat senggangnya.”Tapi selama aku masih bisa bermain basket, aku akan terus bermain basket,” tambahnya.Kedekatan Iboy dengan keluarga juga tampak saat ia harus pergi ke luar kota. “Setiap pulang dari luar kota aku pasti bawa oleh-oleh, terutama untuk mama. Mama tuh suka makanan tradisional, seperti keripik tempe, dodol warna warni,” jelas Iboy seraya bercerita lebih lanjut bagaimana ia terkadang menitip orang karena kondisi yang tidak memungkinkan baginya bepergian di sela pertandingan.Bangga Pada SEAG XXISelain juara Kobatama di tahun 1999, SEA Games XXI Kuala Lumpur merupakan pengalaman paling berharga sekaligus membanggakan bagi Iboy.“Aku punya pengalaman menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan merasakan permainan tough defense,” ungkap pemain yang mengagumi small forward Aspac Texmaco, Riko Hantono.“Aku senang banget waktu Indonesia bisa dapat perak. Bagaimana tidak bangga, kan ini sejarah!” kenang Iboy yang mendapat pesan dari bundanya untuk tidak lupa sembahyang.Menjadi pemain Nasional adalah impiannya sejak mengenal basket. Dan ketika cita-cita itu terwujud, apa lagi yang Iboy cari?“Filosofiku dalam bermain basket adalah jangan terlalu puas dengan apa yang sudah diperoleh. Saat ini aku sudah merasakan menjadi pemain Nasional, tapi belum tentu di tahun mendatang. Jadi aku harus maintain yang sudah aku capai saat ini,” jelas Iboy yang punya keinginan menjadi pemain All Star Asia.Walaupun cedera berat belum pernah ia alami, namun Iboy punya kenangan tersendiri saat cedera engkel di Adidas Streetball, Milan.“Saat itu aku sedang dipapah oleh teman-teman setelah engkelku cedera. Di depanku ada Kobe Bryant sedang dikerubuti fansnya. Tanpa sadar aku berlari sambil terpincang-pincang ke arah Kobe dan minta tanda tangan di sepatu yang aku tenteng,” cerita Iboy sambil tertawa. Kenekatan Iboy membuahkan hasil memorabilia sepatunya yang bertanda tangan Kobe. “Setelah itu aku ditarik sama bodyguardnya. Tapi aku senang karena sempat ngobrol dengan Kobe dan dia malah bertanya tentang engkelku.” Bagi penggemar Tim Duncan ini, GOR Kertajaya Surabaya sempat menjadi tempat yang sering membuat ia kehilangan moment penting. Final PON 2000 yang berlangsung di GOR tersebut merupakan event pertama yang menyesakkan dada Iboy. “PON 2000 adalah PON ku yang terakhir. Namun kita gagal memperoleh medali emas. Waktu itu DKI kalah dari Jawa Timur di final, dan di PON sebelumnya kita juga gagal,” kenang Iboy.Event kedua yang membuat Iboy sedih adalah saat Final Four Kobatama 2001. Bertempat di GOR yang sama, Satria Muda kalah dari Bhinneka di semifinal. “Wah jangan sampai aku sugesti GOR Kertajaya adalah bad luck bagiku,” ucapnya sambil bergurau. (Miranda Dewayani)
Abonneren op:
Reacties posten (Atom)
Geen opmerkingen:
Een reactie posten